SWEET ANA

Suatu siang  Bunda, Ana dan Kaka pergi bersama rombongan sekolah kaka ke sebuah tempat rekreasi.. Anak-anak bermain ke setiap arena permainan, terkadang Ana dan Kaka tiak main bersama karena selera yang berbeda. suatu saat Kaka ikut dengan teman-temannya ke sebuah arena permainan, sementara Ana menunggu bersama bunda sambil melepas lelah di sebuah kursi yang banyak tersedia di tempat rekreasi itu.
tiba-tiba.. 
“Bunda, Ana mau mainan itu..”
“Sebentar sayang, kita tunggu kaka dulu, nanti baru kita bareng-bareng cari mainan yaa..” (Kaka masih sibuk dengan aktivitas bersama teman2nya)
“ Ana mau beli mainan sekarang, nanti baru tunggu Kaka..” rengeknya..
“Bunda bilang tunggu dulu...!!!”
(Sebenarnya sangat memungkinkan sih tapi dah BT bangeeet harus menghadapi dua anak dengan kutub yang berbeda..)
“Tapi kan bisa beli mainan sebentar ajaaa..nanti kesini lagi” kaki kecilnya mulai menghentak-hentak tak sabar.. (oh nooo, bisa sabar ga sih ni anak..!)

Bunda mensejajarkan tubuh agar bisa menatap mata bulatnya.. “Ana..! sekali lagi bunda bilang, tunggu kaka dulu..ngerti??!!!”. (Perlahan tapi tegas dan penuh tekanan sambil meremas lengannya)
Mata bulat itu langsung meredup, mulutnya rapat dan tidak lagi berbicara apa2.
Ok... masalah selesai.., 5 menit  kemudian Ana sudah kembali dengan keceriaannya.
3 jam kemudian...  “Oke, kita pulang yuu..” kugandeng 2 bidadari yang masih tetap ceria walau tampak lelah ini.

Tiba-tiba...
“Bunda, sini dulu..” (Ana memintaku mendekat seperti kebiasaannya jika ingin bicara serius berhadapan, Dipegangnya kedua sisi wajah bunda dengan tangan mungilnya, didekatkannya wajah bunda hanya 15 cm dari wajahnya).
Oh no, mata bulat itu penuh dengan cairan bening yang belum sempat tumpah..
“Ada apa sayang?”
“Kenapa tadi bunda marah sama Ana, Ana kan ga salah?” (perlahan tapi tegas dan penuh tekanan sambil meremas wajah bunda ---> hal baru yang dipelajarinya dari bunda hari ini)
What can I say..??  telah 3 jam berlalu ternyata peristiwa yang kuanggap ringan itu sangat berbekas dihatinya..

Wahai bunda.. tahukah kau kalau mata bulat dan bening ini sanggup melihat kobaran amarah dimatamu walau tak terucap dengan kata-kata.
Wahai bunda... tahukah kau kalau kulit putih dan halusnya ini sanggup merasakan setiap milimeter tekanan bermuatan amarah yang menyentuhnya.
Wahai bunda... tahukah kau kalau hati yang bening dan polos ini dapat menilai siapa yang bersalah walau dengan manipulasi berjuta kata untuk memojokkannya sekalipun.
Wahai bunda... alangkah beruntungnya engkau saat bibir mungil ini masih mampu mengingatkanmu betapa piciknya sikapmu sebagai orangtua.
Wahai bunda... alangkah beruntungnya engkau saat air mata dari mata bulat ini masih mampu mengingatkanmu betapa engkau tidak lebih kekanak-kanakan dari anak  3 tahun ini.

STOP VIOLENCE..!
Just try to be  a SUPERMOM

Komentar

Postingan Populer