GURU KEHIDUPAN
9 Juli 2017,, Pertama kalinya Bunda harus mengantar Kaka untuk hidup terpisah, berpasrah menitipkan Kaka pada Allah.
Dan sampai seminggu setelahnya Bunda menjalani ujian dari guru-guru Bunda dan Ayah. Ya, guru kami berdua adalah Kaka dan Ade.
Ujian untuk hasil pembelajaran hidup dari Kaka selama 12 tahun bersama Ayah Bunda.
Lebih dari seminggu lalu ayah bunda antarkan kaka masuk pondok pesantren ke jenjang MTs. bukan tanpa alasan jelas kita memutuskan memasukkan Kaka kesana, semua sudah hasil pertimbangan matang, dari semua sudut pandang dan hasil diskusi panjang kita semua.
Kaka tahu.. entah bagaimana menggambarkan tersayatnya hati ayah Bunda melihatmu menangis di jam-jam terakhir saat akan melepas kami pulang dan meninggalkan Kaka dalam perjuangan baru tanpa keluarga setelah 12 tahun kaka hidup bersama orangtua dan adiknya.
Saat Kaka memutuskan untuk hidup terpisah dari keluarganya di usia 12 tahun, memutuskan berjuang untuk belajar di Pondok Pesantren ini, maka bunda belajar bahwa kedewasaan kadang tak berbanding lurus dengan usia, menjadi pelajaran bahwa Bunda tak boleh kalah dewasa dari Kaka.
Sebenarnya pertanyaan utama ujian di episode ini simpel: "Siapa sebenarnya pemilik sejati Kaka? Apakah kami orangtuanya yang berhak sepenuhnya atas tubuh dan jiwa Kaka ? ".
Tapi ternyata berjuang mencari jawaban pertanyan itu bukanlah hal mudah.
Satu minggu terberat (menurut Bunda yang lembek ini) yang pernah Bunda jalani, seminggu penuh Ayah Bunda diuji mencari jawaban atas pertanyaan itu, luar biasa diuji oleh Kaka, menahan kangen tiada tara, menahan rasa bersalah, menahan rasa khawatir setiap detik setelah berpisah, menahan airmata yang terus mengambang dipelupuk mata setiap kali mengingat Kaka.
Di hari kelima sejak masuk pondok, Jam 21.15 Kaka diberikan kesempatan menelepon orangtuanya.. Diujung telepon, setelah mengucap "Assalamualaikum", sontak terdengar isak tangis lirih Kaka, Bunda sungguh mengenal lirih suara itu, suara yang akrab sejak Kaka lahir ke dunia, suara pertanda nyeri yang teramat sangat (karena jika ditanyakan level nyeri seorang anak, maka pasti ibunya akan bisa menjawab pertanyaan itu dengan jitu).
"Kaka kangen bunda, Kaka capee, Kaka pengen pulang bundaa.. " suara itu terdengar lirih diiringi isak tangis menyayat hati. Kontan airmata Bunda mengambang dipelupuk mata, sementara disamping Bunda ayahnya sudah terisak pelan dengan airmata yang sudah mengalir, Ade sudah sejak pertama mendengar tangis Kaka diujung telepon sengaja di loudspeaker membenamkan wajahnya di bantal menahan suara tangis.
Tanpa suara kami mendengarkan keluhan dan tangismu diujung sana. Dan saya sang bunda, tiba2 saja menemukan jawaban yang seakan turun dari langit atas pertanyaan ini.
Ternyata Allah sedang menagih kepemilikan-Nya, Allah sedang mengambil sejenak apa yang menjadi milik-Nya. Dan kami tiada daya selain HARUS IKHLAS..
Keikhlasan kami akan dipertaruhkan sebagai bayaran untuk kelak bisa 'meminjam' kembali anak ini hidup bersama kami.
Dan kekuatan itu datang, air mata yang sudah mengambang terhenti dengan tiba-tiba, bunda bisa dengan ceria mendengar dan menanggapi tangisan Kaka dengan tenang, mencoba menenangkan Kaka seperti biasa saat dirumah kaka menangis manja. Perlahan detak jantung dan getaran gelisah memudar berganti kekuatan bertahan.
Maha Besar Allah, sejenak kemudian, terdengar tarikan nafas dalammu diujung telepon. Lalu... "Oke bunda, kalau besok bunda nengok, bawain Kaka.... Bla.. Bla.. Bla.. " sahutmu dengan suara yang luar biasa tegar, sisa tangisanmu tiba2 saja hilang terbawa angin malam.. See..?!. Maha ajaib kekuatan Sang Pemilik kehidupan menciptakan tali yang kasat mata menghubungkan batin bunda denganmu Nak..
Ditelpon berikutnya 5 hari kemudian sudah tak tergambar lagi sisa airmatamu. mendengar kalimatmu yang diawali dengan "SEBENARNYA Kaka belum betah Bun, TAPI ya gapapa.... Bla.. Bla.. ".
Kata 'SEBENARNYA' dan 'TAPI' dalam kalimat Kaka untuk Bunda adalah pernyataan dari sang Guru bahwa Bunda dan Ayah telah lulus ujian tahap pertama.
Alhamdulillah,, hampir saja kami kalah, hampir saja kami menyerah dengan mengambil paksa Kaka dari Sang Pemilik Sejati. Hampir saja kami lupa jawaban dari soal ujian kaka ini..
Kalau kita semua merasa sudah dan harus menjadi guru untuk anak-anak kita, maka menurut saya kurang tepat.
Justru merekalah guru yang sebenarnya untuk orangtuanya, detik demi detik nafas hidup kita di dunia terus menerus diisi dengan pelajaran-pelajaran berarti. Mereka mengajar tiada henti sepanjang usia bersama orangtuanya.
Memberi ujian dengan berbagai level untuk mendewasakan kita yang sudah tua ini.
Hei sang Guru, ayo kita belajar lagi dan lagi, ujiannya jangan susah susah yaa...



Komentar
Posting Komentar