TUJUH RIBU RUPIAH

Sudah sejak satu minggu yang lalu kaka sibuk merayu ayah bunda membelikannya rubik baru (kami sudah beberapa kali membeli rubik, biasanya sih berakhir dengan teronggoknya mainan rubik tsb di pojok tempat mainan dalam keadaan yang sudah ter’preteli’).   Kaka mengajukan permintaan “tinggal nambahin tujuh ribu lagi bunda, uang kaka masih kurang..”. Okei, 7 ribu mah masih gampang lah, tapi bunda punya opsi buat kaka. Kaka harus kerja dulu bantu bunda buat kue kering. Setiap menyusun adonan kue ke dalam satu loyang, kaka akan dapat bayaran Rp 500,-.jadi kalau untuk mendapatkan uang 7.000 kaka butuh menyelesaikan 14 loyang.. okei.. DEAL..!.
Setelah  itu muncul  pertanyaan  “Kenapa sih bunda ribet banget, kaka harus kerja dulu begini?” (saya sudah menduga pertanyaan ini bakal muncul).  Aah, begitu banyak alasan ayah bunda melakukan ini Ka.  Tujuh ribu terlalu kecil nilainya untuk jadi bahan perdebatan, tetapi terlalu besar nilainya saat mampu menjadi ajang latihan kalian menjadi manusia berkualitas. . gampang, sungguh gampang  sebenarnya kami mengikuti keinginan kaka dengan rezeki  yang Allah limpahkan pada kami  saat ini.
Seandainya Kaka tau, betapa sulitnya menahan diri untuk  mengikuti  semua keinginan-keinginan kalian..  Seandainya Kaka tau kalau beberapa orang di sekitar kami pun akan mengatakan “Kasian siih, beliin mainan segitu apa susahnya..?  senyum ceria anak itu ga bisa dibayar dengan apapun looh..”.
Tujuh Ribu sungguh bukan masalah besar Ka, tetapi nilai uang Rp 500,- jauh lebih besar untuk kalian. Kaka pasti tau, bukan hanya soal membeli rubik kalian kami biarkan berjuang. Membiarkan seragam kalian sampai lusuh sebelum membeli yang baru, tidak memberikan ponsel untuk kalian, meniadakan tayangan Televisi total di rumah kita pun kami tega, dan hal hal lain yang selalu membuta kalian marah, Tapi sekarang  bukan lagi masalah tega atau tidak tega..   sungguh tak sesederhana itu Ayah Bunda berupaya menjadikan kalian selalu berjuang dalam segala hal. Perjuangan kalian Insha Allah membuat kalian lebih menghargai sesuatu dan menghargai orang lain, yang terpenting adalah kalian tidak menjadi “KUMAN” di lingkungan kalian kelak.
Seandainya Kaka & Ade  tau masih ada orang-orang di sekitar ayah bunda yang selalu mengatakan bahwa semua keinginannya selalu harus diikuti oleh siapapun, sampai-sampai dia lupa bahwa orang-orang di sekitarnya bukanlah ibunya yang selalu mengikuti semua keinginannya sejak kecil,  bahkan mungkin dia sudah tak bisa ingat bahwa usianya sudah terlalu tua untuk merajuk bagaikan bayi dan mengamuk bagaikan todler saat lingkungan dan situasi tak mampu berjalan sesuai dengan keinginannya.. (Mungkin saja orangtua kalian ini yang memiliki sifat seperti itu,, Wallahu ‘alam.. Astaghfirullah)
 Ya betul,, senyuman kalian berdua tak sebanding dengan permata semahal apapun di dunia ini.  Tapi pelajaran yang Kaka dan Ade dapat saat ini akan melatih Kaka & Ade untuk mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, mampu menunda memenuhi keinginan, mampu melatih kalian menghadapi kesulitan, menghadapi perbedaan  dan pada akhirnya semua nilai kehidupan itu bernilai jauuuh lebih mahal dari permata manapun di dunia ini.
Ayah bunda lebih suka melihat senyuman itu abadi sepanjang hidup kalian, saat kalian kelak mampu hidup menjadi manusia yang tidak serakah, saat kalian terbentuk menjadi manusia yang tidak mementingkan diri sendiri. Cukup kami saja yang berperilaku egois, mau menang sendiri akibat terbiasa mendapatkan apapun dengan mudah, cukup kami saja yang terbiasa memaksa orang lain mengikuti kehendak kami karena tidak terbiasa menerima penolakan apapun dari orang lain. Biarlah kami-kami saja yang menjadi contoh buruk ini.. Tapi tidak untuk Kalian,, Wallahu alam ..

Komentar

Postingan Populer