INTERVIEW KEHIDUPAN
Beberapa waktu lalu kami
harus melewati beberapa fase tes untuk anak pertama kami agar dapat diterima
disebuah pesantren tingkat MTs. Setelah melalui berbagai pertimbangan Kaka memang memutuskan dengan mantap untuk menjalani 3 tahun pertama masa remajanya
di pesantren. Artinya dia merasa siap hidup terpisah dari orangtuanya, belajar hidup
mandiri.. iyaa, dia mah merasa siap, emaknya apa kabaar?? *oooh, baru membayangkan aja bundanya udah mo mewek aja..
Salah satu tes yang harus kami jalani adalah psikotest dan interview dengan orangtua, sementara si Anak menjalani psikotest dan menjawab beberapa puluh pertanyaan secara tertulis. Saat datang sebenarnya ga ada perasaan apa-apa dihati saya, seperti biasa lah kalau mau memasukkan anak ke sekolah baru, 'hanya' merasa butuh mengobservasi lingkungan dan sistem pengajaran untuk bahan masukan dalam memutuskan apakah bisa mempercayakan Kaka boarding school ini atau tidak.
Interview anak dan orangtua dilakukan terpisah, saat itu saya mulai merasa kok kayaknya serius banget yaa proses ini, kalo kata orang sunda mah 'pira ge rek nyakolakeun budak..'. Kaka juga sempat tampak sangat cemas, dipikiran dia mah, kalo ga bisa jawab pertanyaan ga bakal lulus masuk sekolah ini.. tapi sesaat sebelum berpisah karena harus masuk ke area yang berbeda Kaka meyakinkan sy bahwa proses ini akan bisa dilaluinya dengan mudah.
Setelah melewati proses tanya jawab, ternyata gampang kook, cuma ditanya-tanya tentang kesiapan orangtua, tentang proses pengasuhan anak dirumah dan menggali tentang kepribadian anak kita. gampang kaan.? lah wong orangtuanya kok, ga mungkin ga bisa jawab, ya kaaan?. sekeluarnya dari ruangan saya berpikir keras, masya Allah, tak sesederhana itu ternyata. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan nyata-nyata mempertanyakan sejauh mana kami mengenali anak secara mendalam, sejauh mana kami mampu menciptakan pola-pola pengasuhan tertentu yang bisa menjadi prinsip yang bisa dingat orangtua maupun anak.
Kami cuma diminta menjawab cepat secara singkat, misalnya:
"Apa prinsip pengasuhan yang diterapkan bapa ibu dalam mendidik anak?"
"Apa pelajaran yang paling anak sukai?"
"Apa potensi yang dimiliki anak?"
"Sejauh mana anak anda mengenali dan berusaha menggali potensinya?"
"Dengan cara apa bapa ibu menggali potensi anak?"
"Apa hukuman yang diberikan orangtua kepada
anak ibu bapa jika ada kesalahan? "
untuk pertanyaan ini spontan si ayah menjawab: "kami selalu mencoba menerapkan aturan hukuman untuk pelanggaran2 tertentu yang prinsip dirumah, tapi faktanya kami sendiri tidak konsisten menjalankannya, sehingga apa yang sudah dicanangkan malah tak berjalan dan hanya berupa nasehat saja. " Aah, sudahlah jawab seadanya saja, seburuk apapun cara kami mendidik anak toh itu kenyataannya.
untuk pertanyaan ini spontan si ayah menjawab: "kami selalu mencoba menerapkan aturan hukuman untuk pelanggaran2 tertentu yang prinsip dirumah, tapi faktanya kami sendiri tidak konsisten menjalankannya, sehingga apa yang sudah dicanangkan malah tak berjalan dan hanya berupa nasehat saja. " Aah, sudahlah jawab seadanya saja, seburuk apapun cara kami mendidik anak toh itu kenyataannya.
Sekeluarnya dari ruangan dan bertemu kaka, kami saling bercerita tentang apa yang terjadi didalam tadi. ternyata hampir semua pertanyaan diajukan dengan inti yang sama tapi dengan cara yang berbeda.
Dan jawaban kaka untuk pertanyaan tentang hukuman tadi cuma satu
kata singkat.. "NASEHAT". Dia pun menceritakan pada kami tentang
jawaban ini dengan berbinar2.. "Untuung ayah bunda ga pernah pukul kaka
secara fisik, kalo ga kan kaka bakal bingung jawab pertanyaan ini"
lanjutnya. Aah, simple sekali isi pikiran Kaka,
tapi malah membuat kami berpikir keras.. Sudah benarkah cara kami
mendidiknya? Bagaimana kalau efeknya nanti menjadikan mereka menyepelekan
aturan dan norma karena tidak pernah mendapat tekanan keras untuk mematuhi
sesuatu??
Mudah untuk kaka yang tinggal menjawab dengan jujur apa yang dialaminya selama hidup sebagai anak kami, sementara untuk kami orangtuanya, jawaban-jawaban kami dan kecocokan dengan jawaban kaka adalah pertaruhan kredibilitas kami tentang cara kami memperlakukan titipanNya. Bukan masalah dihadapan peng-interview tapi jauh lebih penting dihadapan Sang Pemilik Hidup.
Saya juga sangat jauh dari mengerti bagaimana cara mendidik anak yang benar. Yang saya pikir cuma satu, apapun yang kami lakukan selalu mengarah untuk menjadikan mereka menjadi manusia wajib, yang kehadirannya selalu dirindukan lingkungan sekitarnya, supaya tidak seperti kami orangtuanya. Tapii.. Sudah benarkah cara kami??.
Wallahu a'lam...


Komentar
Posting Komentar