NOMOR ANTRIAN 493


Berhadapan dg rumah sakit besar rujukan nasional itu adalah persiapan jiwa dan raga plus HP full baterai,  jgn lupa persiapan powerbank.. Hehe..  
Loket demi loket didatangi,  mengikuti urutan prosedur pelayanan..  Setiap loket memaksa kita menunggu antrian yang kadang2 dengan nomor yang harus melewati 400 orang.  Jangan tanya bagaimana rasanya, membayangkan saja sudah berat.  Njalaninya?  Ya hadapi saja.. 
Ditengah penantian demi penantian,  tak pernah lepas dari pembelajaran yang Allah datangkan untuk kita. 


Tetiba terdengar percakapan dibelakang kursi dari dua orang ibu.  Ibu satu tampak lemas dalam penantian, kita sebut saja 'ibu lemas',  ibu ini bercerita bahwa dia mengantar suaminya yang sudah beberapa tahun berjuang melawan kanker.  Si ibu bercerita betapa lelah hidupnya,  bolak balik memperjuangkan hidup suaminya tercinta. Bermenit-menit dihabiskannya untuk bercerita tentang beratnya hidup yang dijalaninya. 
Ibu kedua sebut saja 'ibu bahagia' bercerita bahwa ia datang sendiri untuk menjalani pengobatan rutin untuk kanker yang dilawannya bertahun tahun. Ibu bahagia berkisah baru saja mendengar kisah pasien2 seperjuangannya yang survive dan menjalani hidup dengan bahagia,  berkisah juga tentang beberapa teman seperjuangannya yang meninggal dengan damai didampingi keluarganya.  
Disela-sela obrolan dan antrian, ibu bahagia beberapa kali tampak bangun dan sibuk menolong pasien atau keluarga pasien yang kesulitan mendapat nomor antrian,  bahkan keluar ruangan untuk mengantar seseorang yang kebingungan dengan arah menuju suatu tempat. 
Dari rentetan kalimat2 cerita dua ibu ini entah mengapa telinga dan otak saya begitu saja menyaring dan menyimpulkan percakapan dua ibu ini. 
Isi percakapan Ibu lemas ini ± 80% berisi keluhan,  penderitaan dan kalimat2 negatif seperti mengomentari ketidakpuasan terhadap pelayanan RS,  betapa lamanya antrian yang hrs dijalani. 
Sementara itu,  telinga dan otak saya sama sekali tidak mampu menangkap aura negatif dalam ucapan dan sikap ibu bahagia. Bahkan dalam panjangnya antrian dia masih mampu bermanfaat untuk orang disekitarnya. 
Padahal dari percakapan tentang diagnosa dan proses penyakit mereka,  suami ibu lemas tampak jauh lebih baik kondisinya dibandingkan ibu bahagia..  

Aah, entahlah..  Harus banyak belajar melihat ujian yang datang dari sudut pandang bahagia,  bahagia dan bahagia..  Karena jangan2 yg menurut kita musibah,  justru sebenarnya jadi ladang amal dan kebaikan untuk kita.. 

Kalau buat saya,  mengantri artinya bisa punya waktu menulis dan memposting isi dapur sayah.. Hahayy..  Mari bahagiaa.. 

Komentar

Postingan Populer