Ajari Mereka Tersenyum Yuuk
Salah satu profesi
saya (selain profesi sebagai ibu rumah tangga tentunya) mengharuskan saya turut
membimbing mahasiswa mahasiswi dari beberapa institusi untuk berpraktik di
tempat kerja saya selama beberapa waktu. Itu berarti akan ada tuntutan untuk memberikan
nilai etika pada mereka selama melakukan praktik. So, bimbingan dan kegiatan
harian dilakukan sambil tetap memperhatikan sikap-sikap mereka dalam keseharian.
Dalam satu waktu bersamaan
ada beberapa kampus yang mengirim anak didiknya berpraktik, entah kenapa saya
melihat beberapa fenomena menarik. Satu kelompok mahasiswa dari kampus yang
sama datang dengan mimik wajah yang ajaibnya sungguh sama persis:
Wajah datar
(cenderung cemberut), bibir agak sedikit tertarik ke bawah, pandangan mata yang
berani menatap lekat orang didepannya (menurut saya ini pandangan mata yang
agak kurang ajar, kontak mata memang sangat perlu dalam komunikasi. Tetapi bukan
kontak mata yang menatap dalam-dalam penuh selidik seperti ini tentunya..),
dada terbusung dan gestur tubuh yang menampakkan jelas ketidaktertarikan pada
lingkungannya saat ini. Saat berbicara pun mereka menjawab pendek-pendek.
KESAN: males deh interaksi dengan mereka.
Dihari yang sama
sekelompok mahasiswa dari institusi yang berbeda datang, tetapi saya melihat
pemandangan yang sangat jauh berbeda,
mimik wajah dan gestur yang ditunjukkannya sama persis pada sekelompok
anak-anak ini:
Senyum mengembang, merunduk
sopan saat berbicara dengan saya, tatap
mata berbinar dan entah mengapa kalau saya bilang tatapan yang sangat sopan dan
menyenangkan. Tampak sangat tertarik dengan situasi lingkungannya saat ini. Mereka
selalu memulai pertanyaan dengan kata ‘maaf’.
KESAN:oke.. saya
akan mendapat pengalaman yang menyenangkan bersama mereka.
Dua hari berlalu
dengan inensitas interaksi yang sama, mereka menunjukkan sikap yang sama dan
sesuai dengan apa yang mereka tunjukkan sejak hari pertama.
Kelompok ‘kampus
cemberut’ tampak berbeda dari segi performa kerjanya, sungguh lebih
bermalas-malasan dan tidak antusias dibandingkan dengan ‘kampus tersenyum’ yang
selalu bertanya sambil tersenyum “apa lagi yang mau kita kerjakan bu?”
kebetulan pada hari kedua,
dosen dari kedua institusi datang untuk memantau perkembangan anak didiknya
pada jam yang berlainan. Sehingga saya punya cukup waktu untuk mengobrol dan
melihat interaksi mahasiswa-dosen untuk beberapa lama.
Dosen dari ‘kampus
cemberut’ sejak pertama datang, sedikit pun tidak berbasa-basi dengan saya sbg
pembimbing lapangan, isi percakapan kami hanya:
Dosen: “Mahasiswa
saya ada disini bu?”
Saya: “ya ada bu..”
(mengangguk sambil tersenyum pastinya doong)
Dosen: “ooh, bu ini
format nilainya, didalamnya sudah ada daftar nama anak-anak kami, mohon diisi
ya bu..”
Saya: “Oke..”
(Spechless......)
Sementara isi percakapan
bu Dosen dengan anak didiknya berisi seputar pertanyaan “sudah dapat apa
disini?”, “mana tugas kalian?”, “kalo tugas ga selesai, nanti ibu kurangi ya
nilainya..”
Hmmm... terpana saya
melihatnyah..
Oke kita lihat dosen
kedua dari “Kampus tersenyum”
Beliau datang dengan
wajah penuh senyuman.. langsung menyapa saya dengan ‘sok’akrab (sok akrab yg
menyenangkan), “Apa kabar ibuu.. maaf ya, kalau anak-anak saya merepotkan ibu...bla...bla..bla.. boleh
kita bicara bersama dengan anak2?”
Saat berkumpul
dengan anak didiknya saya hanya terpana melihatnya merangkul anak-anak mhswa
nya, “Gimana anak-anak bunda? Ada kesulitan gak? Mudah-mudahan kalian ga
merepotkan pembimbing disini yaa..?”.
Dilanjutkan dengan pembicaran akrab ibu dan
anak, satu pun tak ada permintaan pengumpulan tugas dengan ancaman punishment..
beliau hanya berkata “kalau laporan
sudah selesai jangan ditunda untuk bimbingan ya, bunda tunggu lho di kampus..” .... (Bunda...?!
oke! Satu poin pemikiran buat saya).
See...??! perbedaan lingkungan dan
pola asuh PASTI jadi faktor utama akan
seperti anak-anak kita nantinya.. renungkan saja..
(ngetik sambil
pusing mengolah nilai etika untuk anak2 ‘kampus cemberut’..)


Kasih D..hahahaha
BalasHapusIya juga sih.. mgkn itu salah satu dr sekian faktor yg bisa mengundang senyum ya.. :)
Hapus