no TV no PROBLEM....

Televisi saat ini kan sudah menjadi media yang “wajib” dimiliki setiap rumah bahkan ruangan (mungkin ada rumah yang udah punya televisi di tiap kamar mandinya yaa..?!#). Yang berlaku saat ini di dunia adalah  era globalisasi = era komunikasi = era gaul = era harus tau segalanya = era  malu kalo ga gaul = era malu kalo ga alay dsb..dsb.. yang kesemuanya menuntut kita untuk mengikuti semua tindak tanduk mode dunia yang makin lama makin aneh nyeleneh. Salah satu sumber info terbaru dan terasik untuk bisa jadi makhluk paling aneh sejagat raya jelas adalah televisi dengan acara yang dibuat oleh pejuang-pejuang alay Indonesia..

Anak-anak jelas keranjingan semua acara televisi. Untuk anak-anak audio visual dengan gambar bergeraknya jelas sangat menarik untuk dilihat.. (bahkan iklan ga penting pun mereka pelototin dengan khusyuknya ceuceuu...). Lama kelamaan kok saya dan suami melihat trend yang makin aneh,, de Ana dengan semua kepolosannya di usia 7 tahun sudah sangat tertarik dengan sinetron dari negeri antah berantah dengan judul yang memadukan manusia dan hewan dengan mesranya (sinetron serigala ganteng atau apalah itu...), Ana sudah sangat suka melihat tokoh pahlawan alay didalamnya (anak laki-laki muda dengan wajah salon #mungkin saya sirik dengan wajah kinclongnya itu) dengan segala perilaku yang sungguh tidak masuk diakal manusia sehat. Padahal saat itu anak-anak kami hanya punya kesempatan menonton televisi di hari sabtu dan minggu, tidak termasuk nonton diam-diam di rumah tetangga dan rumah nenek. Tapi kesempatan menonton yang diam-diam dan sedikit itu mampu melekatkan wajah anak muda salon itu di kepala ana dengan indahnya. Lama-lama kami makin gerah karena de Ana sering ngotot ingin menyalakan televisi demi melihat si cowok salon dan teman-temannya itu, berbagai alasan diajukan seperti misalnya alasan “pengen nginep di rumah mbah..kangen.. “ à jelas-jelas dia kangen nonton TV, karena kami  belum mampu meminta orangtua kami tersayang untuk ikut membatasi menyalakan televisi saat anak-anak kami datang.

Suatu saat tercetus lah kata-kata aneh dari de Ana,,
De Ana            : “Mama..ade tuh sukaa banget sama si Ari (nama samaran dong)”
Mama              : “Maksudnyaa.. Suka gimana de? Suka berteman gitu?”   mulai parno...
De Ana            : “ iihh.. mamaaa.. (dengan gaya manja, sumpah saya bergidik ngeri                                         melihatnya) ade cuma suka aja maah, BUKAN CINTAA...”
DEG..!! berasa dunia runtuh mendengarnya. Suasana hati dan percakapan hari itu dengan suami saya  langsung panik dan penuh berisi diskusi bagaimana mengatasinya.
Saya SANGAT YAKIN, de Ana sungguh-sungguh belum mengerti kata-kata yang diucapkannya tadi, karena dari percakapan selanjutnya terungkap bahwa dia meniru-niru adegan-adegan dan percakapan di TV, tapi saya juga sangat yakin bahwa ketidakmengertian itu dengan  segera akan teratasi saat dia terus dijejali dengan tontonan-tontonan tak penting itu. Dengan segera akan terbentuk pemahaman yang entah benar atau salah mengenai dunia orang dewasa yang belum seharusnya dia kenal,, seperti anak muda salon tadi yang memberikan contoh cara “nembak cewek” yang baik, cara memeluk cewek dengan mesra, cara memegang tangan cewek dengan gentle dsb..dsb. yang lama-lama membuat kami mual.

Oke.. akhirnya kami putuskan untuk memutus total mata rantai menuju dunia alay di rumah kami. Matikan levisi, cabut semua perangkat antena nya.. kebetulan ada moment ayah marah besar gara-gara de Ana ga sholat zuhur demi berkencan dengan TV, maka sejak dua bulan yang lalu anak-anak harus mendapati kenyataan tidak ada lagi suara TV di rumah kami dengan. Segala cara kami komunikasikan untuk meminimalkan efek sakau terhadap TV nantinya tentu.
1-2 hari pertama Kaka gelisah,, “Beneran bundaa.. kaka ga tau harus ngapain ini ga ada kerjaan, ga bisa nonton TV..”
2-3 hari pertama pun  Ade rewel, “iiihh.. mamaaah.. sepiii.. ade ga ada kerjaan niih.., boleh yaa liat TV??”
TETAPIII  ..  Seminggu kemudian dan selanjutnya... hidup berjalan seperti biasa,, mereka kembali ceria, tak ada yang berbeda, sama sekali lupa bahwa ada benda bernama televisi yang sebelumnya selalu mencekoki mereka dengan tontonan2 “ajaib”.
Sementara bunda,, saat malam tiba setelah anak2 jatuh terlelap, mencuri-curi menonton tayangan untuk membunuh sepi.. JADII... siapa yang sebenarnya ga mampu berpisah dengan benda ini..??? jawab saja sendiri.. !!@#%$ *istighfaar.. hehehe..
Tetapi seiring waktu Alhamdulillah smua personel di rumah ini sudah lupa akan kebutuhan menonton. Anak-anak masih bisa menikmati tontonan film-film pilihan di hari minggu dari laptop atau DVD. dan mereka sudah terbiasa mencari kegiatan lain di sore dan malam hari menjelang tidur.
 Toh menjadi dewasa itu ada waktunya, tidak perlu dimulai lebih dini, tidak perlu pembelajaran khusus untuk menjadikan mereka dewasa, didikan iman dan perilaku sepertinya lebih penting untuk bisa menjadikan mereka dewasa sesuai dengan masanya.
Mudah-mudahan hal ini memberi efek positif untuk semuanya, mudah-mudahan kami bisa tetap istiqomah,, entah sampai kapan..

Komentar

Postingan Populer