Merusak Sel Otak dengan Mudah..

Hari itu seperti biasa aktivitas anak-anak dimulai dengan rentetan kehebohan pagi demi mempersiapkan semua personel rumah ini untuk memulai aktivitas harian, anak-anak yang masih leyeh-eyeh ditimpali kicauan bunda yang sibuk memberikan instruksi agar mereka ikut sibuk bersiap-siap.. (memang.. yang namanya emak-emak itu ga pernah tenang kalo liat anak-anak anteng sementara emaknya sibuk sendiri..). Sebelum berangkat tiba-tiba ade mendekati mama... “Mah, ade minta uang 30 ribu maah..” . “Haah! Buat apa de?” mata mama sekejap langsung hendak meloncat mendengar bocah cilik ini minta uang sebesar itu. “Buat jajaan, tapi kalo ga boleh ga usah mah..”
Deg, seketika saya teringat kejadian seminggu sebelumnya. Saya menitipkan uang kepada Ade untuk ditabung hari itu sebesar 30 ribu rp. Siang itu uang tabungan belum jadi di tabung karena menurut ade tempat menabungnya tutup yang diperkuat dengan perkataan yang sama dari kaka yang juga tak jadi menabung. Esoknya saya masih menannyakan uang tersebut, menurutnya belum sempat,, daan (inilah kesalahan terbesar saya sebagai emak-emak sejati.. huufftt...) sampai seminggu kemudian saya lupa bertanya tentang uang tabungan tersebut. Sampai pagi itu ade menyinggung-nyinggung uang 30 ribu. Seketika saya langsung menanyakan keberadaan uang tersebut. Ade terdiam, lalu berkata lirih.. “ga tau mah,, abis ..”
Whatt..??!!! ga kira-kira ya ni bocaaahh. Pikiran saya seketika kalut, emosi meluap-luap. Dengan menahan segala gejolak amarah Ade di wawancara detail mengenai keberadaan uang tersebut. Hasilnya menurut Ade uang itu habis untuk jajan, “Jajan apa dee..?”.Lupa mamaah..” jawabnya ngotot. “ya ga mungkin lah ade sampe lupa.. Trus kenapa ade berbohong sama mama pagi ini,, minta-minta uang 30 ribu segala.. padahal buat ganti uang tabungan itu kan??!!”.  Tetap dengan emosi yang berusaha ditahan tapi toh tetap jelas terlihat juga amarah yang memuncak ini. “Ade ga bohong mamah..” jawabnya lirih dengan berurai air mata, saya tak bergeming melihat air matanya.. hati saya sungguh tertutup dengan amarah. Alhasil sumpah serapah, nada tinggi dan ancaman pun keluar dari mulut saya pagi itu,, astaghfirullahal’adziim..

Okee..! masalah ini di skip untuk sementara karena mereka harus berangkat sekolah, dengan catatan pagi itu juga saya menghubungi bu guru kelasnya untuk berkonsultasi dan meminta bantuannya menangani masalah ini.
Hasil wawancara siang itu dengan bu Guru, De Ana menggunakan  uangnya buat jajan 2000 rupiah, sisanya dikembalikan ke mama. Oh noo.. lagi-lagi bohong, dikembalikan ke hongkong kalee,, ga pernah saya terima uang dari ade. Hari itu saya sungguh gelisah mendapati kenyataan anak tercintaku pandai berbohong.
Setelah solat magrib, saya mendekati ade.. dengan perlahan saya peluk dan ciumi dia. Pelan-pelan saya coba berbicara mengorek keterangan darinya, dengan segenap upaya menahan emosi yang membuncah.
Mama: “Ade, tadi kata bu guru ade bilang uangnya dipake jajan 2000 trus dikembaliin ke mama? Tapi kan mama  ga pernah terima uang ade.. ade yakin jajannya 2000 aja?”
Ade: “Ya emang dua ribu mamah,,, pas pagi jajan dua ribuu, pas istirahat juga dua ribu, besoknya juga dua ribu..” (senyum dalam hati saya mulai terkembang, simpul yang mulai terurai nih..)
Mama:  “Ade tau kan mama marah banget sama ade gara-gara ade berbohong, bohong yang tadi pagi, ade bilang minta uang buat jajan, bohong siang ini tentang ade bilang uangnya dikembalikan ke mama, padahal kan nggak..?”
Ade:  “Maaahh.. kan uang 30 ribu nya buat jajan sama nabung juga nantinya, emang itu namanya bohong ya mah?” polos sungguh wajahnya saat mengatakan itu.
“Mah, tadi ade bilang ke bu guru uangnya dikasiin ke mamah, kalau ade bilang dipake jajan semua ade kan maluuu.. mama jangan cerita ke bu guru ya mah. Emang kaya gitu namanya bohong juga mah? Kan ade cuma ga mau cerita doang..”  sungguh serius wajahnya bertanya dengan mata bulatnya mantap menatap mataku.
“ trus ade bener lupa udah jajan apa aja, kan mama tau ade pelupa .. kaya nenek-nenek ya mah, ga kaya kaka..”.
OK.. fix..! jadi sebenarnya bocah ini bahkan tak mengerti konsep berbohong baik secara harfiah maupun teknik. Dan dengan jutaan luapan kemarahan yang sudah terlontar pun dia tetap tak merasa bersalah.

Saya baru sadar, bocah cilik ini menjadi korban ungkapan kemarahan atas kesalahan yang tak dia mengerti, padahal kami tahu Ade  berbeda dari kaka dari sisi kecerdasan dalam memahami apapun di sekitarnya.
Adalah dosa kami orangtuanya yang mungkin lupa memperkenalkan konsep beberapa tindakan yang salah.
Adalah dosa kami orangtuanya yang selalu menganggap ade sama dengan kaka dari sisi kecerdasan, sementara dia sendiri sungguh memahami betapa terseok-seoknya hidupnya untuk bisa mempelajari banyak hal.
Adalah dosa saya ibunya yang seringkali langsung mengambil kesimpulan dengan membacakan rentetan-rentetan kesalahan yang bahkan dia tidak mengerti sama sekali.
Adalah dosa saya ibunya yang langsung menjatuhkan vonis bersalah atas ketidakmampuannya menyampaikan pemahaman yang jelas untuk saya.

Adalah dosa saya telah merusak jutaan sel-sel otaknya hari itu dengan kemarahan atas kesalahan yang tidak dia mengerti sama sekali.. entah dengan cara apa saya menebusnya.. 

Komentar

  1. Balasan
    1. cmunguudh juga pa Fahri,, belajar terus sama anak2 qta .. kan mereka adalah guru2 kehidupan kita seumur hidup..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer